BICARA SAMBIL TERIAK

March 4, 2010 asih rossi
Tags:

jika sudah tak wajar, kebiasaan berteriak harus dihentikan dan diluruskan. Nah, bagaimana cara membedakan teriakan yang wajar dan tidak?

Anda mungkin pernah mengalaminya: si kecil yang berusia batita selalu berteriak-teriak kala menginginkan sesuatu. Entah itu minta ditemani bermain, dibuatkan susu, dan lainnya. Atau malah si kecil hanya berteriak tanpa jelas apa makna ucapannya. Orang tua pun tak sabar dibuatnya, sehingga dihardiklah si buah hati, “Sssh, berisik, ah!”

Ternyata, perilaku si batita yang demikian sangat terkait dengan perkembangan bahasanya. Maklum, kematangan bicara batita umumnya belum sempurna. Dengan demikian mereka akan mengalami kesulitan dalam mengutarakan maksudnya pada orang lain. Karena itulah, ia akan berusaha menemukan cara-cara yang mudah baginya untuk menarik perhatian orang lain, terutama agar keinginannya dapat dipahami, seperti “Oh… Adek ingin minum, ya. Yuk, minum.”

JANGAN LANGSUNG DITANGGAPI

Jika si kecil termasuk yang lambat perkembangan bicaranya, Ceti Prameswari, Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI, menyarankan orang tua agar tak langsung menanggapi teriakan anak dengan memberikan apa yang diinginkannya. “Nanti si anak tidak belajar dan merasa sudah cukup dengan memiliki kemampuan itu (berteriak) saja. Jadi, lain waktu dia akan kembali berteriak dengan ucapan yang tak jelas. Oleh karena itu, sambil terus mengasah perkembangan bahasa batita, sebaiknya orang tua juga mengajari anaknya bagaimana cara menyampaikan keinginan yang lebih baik ketimbang berteriak.

Kuncinya, kesabaran dan ketelatenan untuk memahami maksud si batita. Kalau maksudnya sulit ditangkap, tanyakan kembalipada anak apa yang ia inginkan, semisal, “Apa, Nak, Ayah tidak mengerti? Coba kamu tunjuk mainan apa yang ingin kamu ambil?”

Kalau ia sudah menunjuk benda yang dimaksud, tegaskan lagi dengan mengatakan, “Oh, Adek mau bola? Ini namanya bola. Cobatirukan ayah…bola.” Jadi, tambah Ceti, jangan langsung berikan apa yang diinginkan si kecil, tetapi biarkan sampai tampak usaha dari anak untuk melakukan apa yang kita contohkan.

Jika si kecil belum sampai pada tahap pembelajaran seperti itu, tambah Ceti, orang tua bisa mengajarinya hal yang lebih sederhana. Contoh, “Ah, Adek haus. Ingin minum, ya? Boleh…yuk sini,” sambil menatap si kecil, lalu lanjutkan, “Tapi tidak usah teriak-teriak, ya. Cukup tepuk kaki ibu saja, seperti ini,” seraya dicontohkan. Namun, Ceti mengi-ngatkan, bahasa isyarat hanya dianjurkan bagi anak yang masih berusia di bawah 2 tahun. Di atas 2 tahun, ia su-dah harus dilatih dan diajarkan menggunakan kemampuannya berbicara.

MUNGKIN CARI PERHATIAN, MUNGKIN EKSPRESIF

Lantas, mengapa di antara anak-anak batita yang sudah lancar berbicara ada juga yang masih suka berteriak kala mengungkapkan pesannya? Ceti menjawab itulah salah satu upaya anak mencari perhatian orang tua dan lingkungannya. Ini wajar, karena anak usia batita belum memiliki banyak pengalaman bagaimana cara menarik perhatian orang lain dengan berbicara yang wajar.

Sebab lain, si anak tergo- long ekspresif. Ketika memiliki kelebihan baru, yaitu bicara, si kecil merasa harus selalu mengasah dan menunjukkan kemampuan yang sebelumnya tak dimiliki itu. “Wajarlah, tadinya kan ia tidak bisa bicara, eh tahu-tahu sekarang sudah bisa mengucapkan kata-kata dan menyambungkannya menjadi kalimat dan bahasanya dimengerti pula oleh orang lain,” kata Ceti.

Jadi jika teriakannya masih dalam batas normal, kita maklumi saja deh. “Justru orang tua harus merasa senang dan bangga karena ini merupakan salah satu ciri anak yang merespons lingkungan, bisa mengeluarkan perasaan, dan berani.” Makanya tak perlu orang tua menghardik, “Diam tahu, berisik!”

MENGUKUR WAJAR DAN TAK WAJAR

Yang perlu dikoreksi, jika teriakan yang tadinya wajar berubah jadi tak wajar. Misalnya, meskipun ada orang lain di dekatnya, si kecil tetap bicara dengan cara berteriak. Atau, setiap hari ia selalu berteriak-teriak sehingga membuat orang lain merasa tidak nyaman. Nah, orang tua harus segera tanggap untuk meluruskannya!

Untuk itu, menurut Ceti, orang tua harus jeli menilai teriakan anak, apakah karena kegirangan atau lantaran ingin mendapatkan perhatian terus-menerus dari lingkungan?

Untuk mengukurnya, lihatlah intensitas teriakan anak dan pada situasi apa ia melakukannya. Contoh, jika pada saat itu anak berteriak karena melihat bajaj, apalagi bajaj tersebut baru pertama kali dia lihat secara nyata, maka teriakannya itu wajar. Tetapi jika anak tiba-tiba saja berteriak dan kita tidak melihat ada alasan positif di baliknya, boleh jadi itu tak wajar dan harus segera diluruskan. Umpama, si kecil yang sedang bermain tiba-tiba berteriak, “Ayah… minta minum!”

Untuk meluruskannya, tetaplah berbicara dengan nada lembut sambil memberi tahu, “Adek bicaranya pelan saja, Ayah juga dengar kok.” Atau, “Ada apa, Dek, kok teriak-teriak? Kalau Adek teriak seperti itu, Ayah jadi tidak mengerti apa maumu. Nah, sekarang katakan pelan-pelan, Adek mau apa?” Sambil orang tua mendekati si kecil dan berbicara dengan menatap matanya dalam-dalam.

Selanjutnya, jika bicara sambil berteriak ini masih terjadi saat usia anak sudah 3 tahun, orang tua perlu mengambil sikap lebih tegas lagi. Di usia ini secara kognitif anak sudah lebih berkembang, sehingga orang tua bisa mengatakan, “Adek, kok masih teriak-teriak? Teriak-teriak seperti itu, kan enggak baik.”

Walau masih sederhana, anak usia tiga tahunan sudah mengerti konsep baik dan buruk berdasarkan penilaian orang tuanya. Pemberitahuan bahwa berteriak bukanlah perilaku yang baik cukup efektif menghentikan kebisaan ini asalkan disampaikan dengan nada yang lembut. Tujuannya agar anak tak sakit hati.

Jangan lupa, jelaskan alasan mengapa tak boleh berteriak agar ia paham. Dengan begitu, tak ada rasa sakit hati pada anak yang dapat menghambat perkembangan kreativitasnya.
TAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN AUTIS DAN ADHD

Ada yang berpendapat, anak yang suka teriak-teriak merupakan salah satu ciri anak autis ataupun ADHD (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif). Namun, Ceti menyanggahnya dengan cepat. Anak autis, ungkapnya, selain memiliki perkembangan bahasa yang lambat, juga tidak memiliki kontak sosial dengan lingkungannya, asyik main sendiri, dan melakukan hal-hal yang monoton serta terpaku pada hal-hal tertentu. Anak autis mungkin saja menampilkan perilaku suka berteriak-teriak tapi tidak untuk maksud berinteraksi dengan lingkungannya.

Sedangkan untuk masuk ke dalam kelompok anak ADHD, menurut Ceti yang harus diperhatikan adalah, “Anak ADHD sangat cepat beralih konsentrasinya, sangat aktif, bicaranya sangat cepat, dan beberapa kasus ADHD menunjukkan masalah neurologis (saraf).” Di luar itu, berarti anak tidak termasuk dalam kelompok tersebut.

Entry Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

March 2010
M T W T F S S
« Dec   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts

 
%d bloggers like this: