Karakteristik Perkembangan Intelek Anak Usia Dini

December 9, 2009 asih rossi
Tags:

Karakteristik Perkembangan Intelek Anak Usia Dini
English berpendapat, akan sia-sia hasilnya mengajar anak membaca, menulis, berhitung bila anak belum mencapai kematangan kesiapan belajar hal-hal tersebut di atas. Tercapainya stadium kesiapan belajar ini untuk setiap anak berbeda-beda, yaitu sekitar usia 4 — 10 tahun, yakni usia di mana tercapai kematangan hubungan intra kortikal antara bermacam-macam pusat otak. Beberapa pengarang berpendapat bahwa untuk belajar membaca, menulis dan berhitung diperlukan kematangan fungsi-fungsi:
1. sensomotorik
2. koordinasi motorik kasar dan halus
3. tanggapan ruang dan orientasi bidang
4. kognitif
5. ketajaman melihat dan mendengar
6. bahasa reseptif (penerimaan) dan bahasa ekspresif (mengeluarkan).
Jika fungsi-fungsi tersebut belum berkembang dengan baik, maka anak-anak sukar belajar membaca, menulis dan berhitung. Contoh-contoh kematangan fungsi:
a. Senso motorik.
Adanya integrasi yang baik antara tanggapan sensorik dan
gerakan, yang diperlukan untuk belajar membaca dan menulis.
b. Koordinasi motorik kasar, dapat:
menggerakkan lengan, tangan dan jari
ü menegakkan kepala
ü menggerakkan tungkai, kaki
ü berjalan, melompat, jongkok.
c. Koordinasi motorik halus:
ü koordinasi antara mata dan tangan
ü memegang benda kecil
ü menangkap bola
ü membuka halaman buku
ü menggambar dan menulis.
d. Tanggapan ruang dan orientasi bidang:
ü dapat membedakan kanan/kiri, atas/bawah, muka/belakang
ü mengenal bentuk benda:
ü kubus, kotak, bentuk geometric, mengenal garis horizontal, garis vertikal, garis lengkung
ü dapat membedakan huruf: d, b, p.
e. Kognitif:
ü dapat mengolah rangsangan panca indera sesuai yang diperlukan untuk belajar membaca, menulis dan berhitung.
ü berdasarkan tanggapan dan ingatan, anak dapat membayangkan
ü sesuai dan melakukan sesuatu yang diperlukan untuk membaca, menulis, dan berhitung.
f. Bahasa reseptif dan bahasa ekspresif:
Anak harus dapat mengerti bahasa yang diucapkan orang lain (bahasa reseptif), dan juga dapat mengeluarkan/menyatakan perasaan atau buah pikirannya (bahasa ekspresif) secara baik. Bila anak belajar membaca dan menulis, padahal kesiapan anak untuk menerima pelajaran ini belum tercapai, maka anak tetap sukar untuk dapat membaca dan menulis. lni akan mengecewakan guru dan orang tuanya, dan menganggap anak ini keras kepala, malas, hingga sering memarahinya. Suasana belajar ini menyakitkan anak, sehingga bila anak nantinya sudah siap untuk belajar membaca dan menulis, pengalaman yang menyakitkan ini masih terbayang dan anak akan tetap menolak atau merasa malas untuk belajar membaca dan menulis lagi.
(Dari berbagai sumber)

Entry Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

December 2009
M T W T F S S
    Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts

 
%d bloggers like this: